Rabu, 03 Desember 2008

Hadis: “SEMOGA ALLAH TIDAK AKAN MENGENYANGKAN PERUTNYA, YAKNI PERUT MU’AWIYAH”. Adalah Doa Keburukan Nabi saw. Atas Mu’awiyah




Bantahan Atas: Artikel Blog -haulasyiah-: Hadis “SEMOGA ALLAH TIDAK AKAN MENGENYANGKAN PERUTNYA, YAKNI PERUT MU’AWIYAH”. Adalah Doa Keburukan Nabi saw. Atas Mu’awiyah


Para pecinta dan pembela kaum munafikin selalu berusaha dengan berbagai cara dan upaya -walau sia-sia- bahwa Nabi saw. telah memuji dan mengungkap keutamaan dan fadhâil tokoh-tokoh kemunafikan. Persis apa yang dilakukan pengelolah blog haulasyiah… Setiap kali menyaksikan hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait as. bergegas mencacatnya, dengan membuat seribu satu alasan, ia akan terbang kegiraang dengan menemukan komentar miring seorang muhaddis tentang hadis tersebut, walaupun harus mengabaikan keterangan para muhaddis lain. pencacatan, jarh yang mubhan sekalipun akan ia telah dan tidak pernah mau menelitinya kembali. Sebailiknya apabila ia menemukan sebuah hadis yang menyebut-nyebut keburukan kaum munafikin atau orang-orang yang mereka kagumi, ia bergegas membelanya walaupun dengan hanya komentar seorang muhaddis “miring”, menakwilkannya, memutar-balikkan pemaknaannya dll.


Bukanlah hal yang perlu dirisaukan apakah apa yang ia lakukan harus melecehkan kemuliaan Nabi Muhammad saw. dan mencoreng keagungannya… Yang penting baginya Si Munafik itu harus diselamatkan!

Inilah persis dilakukan pengelolah blog haulasyaih… ia ngotot dan bersusah-susah mengatakan bahwa hadis: “Semoga Allah tidak mengenyangakan perutnya (Mu’awiyah).” adalah shahih dan ia adalah doa kebaikan Nabi saw. untuk Mu’awiyah!

Dengan formulasi ramuan sebagai berikut:

Nabi saw. telah meminta kepada Allah SWT bahwa doa keburukan yang beliau panjatkan untuk orang-orang tertentu yang ternyata tidak layak menjadi alamat doa itu agar Allah jadikan sebagai penyucian, rahmat dan kebaikan baginya + Mu’awiyah tidak berhak mendapat doa itu, Jadi doa itu adalah doa kebaikan bagi Mu’awiyah. Dan itu artinya ini adalah keutamaan untuk Mu’awiyah.

Demikianlah mereka mempermainkan agama atas nama agama dengan melecehkan Nabi saw. sebagai Rasul pilihan Allah SWT!

Dalam kesempatan ini saya hanya mengajak para pembaca untuk merenungkkan kembali keterangan dan penegasan para ulama yang kami tulis pada: Ibnu Rahawaih: Tidak Sahih Satupun Dari Hadis Keutamaan Mu’awiyah.


Jadi jika para ulama telah menegaskan tidak ada hadis shahih tentang keutamaan Mu’awiyah yang pernah disabdakan mulut suci Rasulullah saw., mengapa masih ada pihak-pihak yang ngotot mengatakan sebaliknya!

Bukti Lain:

Selain itu, pada peristiwa keji yang dialami Imam an Nasa’i adalah sebuah butki nyata kesalahan dan kesesatan usaha dan kesimpulan Front Pembela Kaum Munafik (FPKM) pada apa yaang mereka simpulkan.

Ikuti lapora peristiwa kriminal para pemuja kesesatan atas Imam pembela as Sunnah; Imam an Nasa’i.

Para ulama melaporkan bahwa ketika Imam Nasa’i; Ahmad ibn Syu’aib berkunjung ke kota Damaskus ia menyaksikan bahwa penduduknya tenggelam dalam kecintaan kepada bani Umayyah, khususnya Mu’awiyah dan sangat membenci Ali dan Ahlulbait Nabi as., maka merasa bertanggung jawab untuk menyebarkan kebenaran, beliau menulis kitab Khashaish dan membacakannya secara umum di Masjid Jami’. Masyarakat di sana tidak terima, mereka memaksa Imam Nasa’i agar meriwayatkan juga hadis keutamaan Mu’awiyah. Beliau menjawab, “Tidak cukupkah Mu’awiyah tidak disebut-sebut, mengapa ia harus diberi keutamaan?!”

Dalam riwayat lain Imam Nasa’i menjawab, “Aku tidak mengetahui bahwa ia punya keutamaan, kecuali hadis yang mengatakan, ‘Semoga Allah tidak membuatnya kenyang.’” Mendengar jawaban itu, spontan para pemuja setan itu menyerangnya, menginjak-nginjak kemaluannya dan menendang-nendangnya. Setelahnya, beliau dibawa keluar dari masjid dalam keadaan cedera parah dan dilarikan keluar Damaskus, sesampainya di kota Ramalah-Paletina, beliau wafat pada hari senin tanggal 13 Shafar tahun 303 H.[1]

Semoga Allah Merahmati beliau.

Abu Bakar Muhammad ibn Musa ibn Ya’qub ibn Al Ma’mun Al Hasyimi berkata, “Aku mendengar banyak kalangan mengecam Nasa’i karena ia mengarang kitab Khashaish Ali ibn Abi Thalib ra. dan tidak mengarang kitab tentang keutamaan Abu Bakar, Umar dan Utsman ra., lalu aku sampaikan kepada beliau hal itu. Beliau menjawab, “Kami masuk ke kota Damaskus sementara penduduknya banyak yang menyimpang dari Ali, lalu aku mengarang buku itu dengan harapan mereka mendapat hidayah Allah…” Beliau, kata Abu Bakar, pernah ditanya, ”Mengapa Anda tidak meriwayatkan keutamaan Mu’awiyah?” Maka beliau menjawab, “Apa yang akan aku riwayatkan? Apa hadis ‘Semoga Alah tidak membuat perutnya kenyang.”! Setelahnya An Nasa’i diam dan si penegur pun bungkam.

Oleh sebab itu, Imam Nasa’i juga tidak selamat dari tuduhan sebagai Syi’ah, seperti yang dituduhkan Ibnu Taimiyah, ia berkata, “Dan kesyi’ahah sebagian ulama seperti Nasa’i, Ibnu Abdil Barr dan semisalnya tidak sampai batas mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. Dan faham seperti itu (mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar) tidak terdapat pada seorang pun dari ahli hadis(?).”[2]

Imam Nasa’i, dituduh Syi’ah (seperti ulama lainnya) karena dua alasan; pertama, ia mengarang kitab Khashaish dan kedua, karena ia dianggap merendahkan Mu’awiyah. Demikian dikatakan Abu Ishaq Al Hawaini.

Di sini Anda dapat bayangkan situasi dan mentalitas masyarakat Muslim yang sudah kerasukan gila cinta bani Umayyah dan anti pati kepada keluarga suci Nabi saw… Sampai-sampai ulama besar dan Imam agung ahli hadis seperti Imam Nasa’i sekalipun tidak selamat dari kebiadaban sikap arogansi mereka.

Sikap yang sama sekarang tanpak pada sebagian kaum yang memuja-muja dan menshahihkan hadis-hadis palsu keutamaan Mu’awiyah dan selalu ngotot mendha’ifkan hadis-hadis shahih keutamaan Imam Ali as.

Mereka Memalsu Atas Nabi Nabi Suci Muhammad saw.

Dan demi membela si gembong kaum munafik, para pemalsu membuat-buat hadis atas nama Nabi saw. bahwa beliau bersabda:

اللَّهُمَّ فَأَيُّما مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْهُ لَهُ قُرْبَةً إليكَ يومَ القيامَةِ.

“Ya Allah, siapapun dari kaum mukmin yang aku caci maki dia maka jadikan caci makian itu untuknya sebagai qurbah (kebaikan yang mendekatkan) kepada-Mu kelak di hari kiamat.”

Sekali lagi, demi mebela Mu’awiyah kini mereka melecehkan Nabi Muhammad saw… mereka berkata, “Bahwa yang dimaksud dengannya adalah orang yang dicaci-maki atau dilaknat atau disakiti atau dicambuk itu adalah orang yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan perlakuan buruk tersebut dari Nabi saw.. Karena beliau adalah manusia biasa, maka sebab itu hal-hal di atas tidak terelakkan lagi dari kehidupan beliau seperti juga orang-orang lain yang tak mampu menahan nafsunya dengan mencacai-maki orang yang tidak berhak ia caci-maki dan atau melaknati orang yang tidak layak dilaknati.

Dalam kitab Shahihnya, Kitab al-Birr wa al-Shilah Wa al-Aadaab (Kitab Kebajikan, Kebaikan dan Sopan Santun), Muslim menulis sebuah bab dengan judul Man La’anahu an-Nabi saw. Aw Sabbahu Aw Da’a ‘Alaihi Wa Liasa Huwa Ahlan Lidzalika Kaana Lahu Zkatan Wa Ajran Wa rahmatan (Orang yang dilaknat, dicaci maki atau dido’akan celaka/jelek oleh Nabi saw. sedangkan orang itu tidak layak (diperlakukan seperti itu maka laknatan, caci maki dan doa itu menjadi penyuci, pahala dan rahmat baginya).

Mereka berkata bahwa kebiasaan buruk mencaci, melaknat dan mendoakan sembarangan atas orang lain itu sulit ditinggalkan Nabi saw. lantara beliau juga manusia biasa!! Seorang Nabi juga manusia biasa!!

Dan untuk menilai sesat tidaknya pikiran seperti itu saya persilahkan para pembaca menilai sendiri.

Wassalam.

_________________


[1] Baca Wafayât Al A’yân; Ibnu Khallikan, tentang biodata Imam An Nasa’i, Mukaddimah Khashaish Imam Ali oleh Abu Ishaq Al Hawaini.

[2] Minhaj As Sunnah,4/99.

Semua Hadis Keutamaan Mu’awiyah Palsu! Bantahan Atas “Haulasyiah”



Semua Hadis Keutamaan Mu’awiyah Palsu

Sengaja saya buka artikel ini dengan ayat Al Qur’an untuk mendapat keberkahan dan agar ia menjadi petunjuk bagi kita dalam kajian ini.

Allah SWT berfirman:

الْمُنافِقُونَ وَ الْمُنافِقاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَ يَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنافِقينَ هُمُ الْفاسِقُونَ.

“Orang-orang munafik laki- laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang- orang yang fasik.” (QS. At taubah[9];67)

Ayat di atas menggambarkan kepada kita sebuah kondisi yang terjalin antara kaum munafiqîn dan munâfiqât. Kondisi hubungan yang terjalin di antara mereka itu adalah disatukan oleh walâ’, idiologi dan kepentingan serta kesamaan kualitas mental dan kejiwaan. Mereka saling membela dan saling tolong menolong dalam menghadang dan menentang kebenaran.

Mereka akan saling memberikan pembelaan, dukungan dan akan berusaha sekuat tenagga untuk mengharumkan nama-nama busuk mereka yang telah tercemar dengan kemunafikan, kejahatan atas agama dan kemanusian, dan pengkhianatan-pengkhianatannya.

Kaum Munafikin yang telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya itu ternyata tidak kesulitan mendapat para pembela di kehidupan dunia ini. Namun siapakah gerangan yang membela mereka di hadapan Allah SWT kelak?!

Allah berifrman menjelaskan kenyataan ini:

ها أَنْتُمْ هؤُلاءِ جادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَياةِ الدُّنْيا فَمَنْ يُجادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكيلاً.

“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat Atau siapakah yang jadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah).” (QS. An Nisaâ’[4]:109)

Kenyataan ini juga terjadi terhadap Mu’awiyah (yang ditegaskan Nabi sebagai pimpinan Fiatun Bâghiyatun/kelompok yang menentang kebenaran, dan menganjurkan kepada api neraka). Ternyata ia juga mendapat pembelaan dari sekelompok orang atau pihak-pihak yang menyanjung idealisme Mu’awiyah dan keluarga Bani Umayyah.

Berbagai kejahatannya ditutup-tutupi …. apabila tak mampu mereka tutup-tutupi, mereka mencarikan seribu satu alasan untuk membelanya, atau membuat-buat kepalsuan atas nama Nabi saw. hadis-hadis yang menyanjungnya seakan sebagai titisan Ruh suci yang dipersembahkan untuk penduduk bumi… inilah yang terjadi…. dan apabila ternyata ada ulama yang bangkit membuktikan keburukan, pengkhiatan dan kemunafikan Mu’awiyah atau membuktikan bahwa tidak pernah barang sekali pun Nabi saw. bersabda memujinya, maka para anshâr dan awliyâ’/para pembela keluarga Bani Umayyah bangkit beramai-ramai membelanya dan menuduh siapapun yang berani membongkar fakta-fakta di atas sebagai membenci dan menghina sahabat Nabi saw.!

Di antara ulama Ahlusunnah yang dengan berani menyuarakan kebanaran tentang hakikat keburukan Mu’awiyah adalah Ishaq ibn Râhawaih al-Handhali. Setelah penelitian panjang dan mendalam tentang berbagai kepalsuan yang banyak dilakukan musuh-musuh Islam atas nama Nabi suci Muhammad saw., ia membongkar dengan berani bahwa tidak ada satupun hadis shahih yang memuji Mu’awiyah yang pernah disabdalan lisan suci Rasulullah saw. ….

Demikian juga dengan Imam an-Nasa’i.

Menyaksikan ketegasan pernyataan tersebut, maka para sisa-sisa pemuja kesesatan Mu’awiyah tidak terima… mereka memcari-cari berbagai alasan untuk membela tuan mereka…. akhirnya mereka memutuskan untuk mengakatan bahwa pernyataan itu tidak shahih pernah disampaikan oleh sang alim, pakar hadis itu! Usaha itu mereka dukung dengan alasan bahwa ternyata penukil ucapan itu masih majhûl/belum dikenal…. .

Haulasyiah berkata:

Kita katakan bahwa riwayat ini tidak shahih, karena di dalam sanadnya terdapat rowi yang bernama Ya’qub bin Yusuf Al-Asham ayahnya Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf dia Majhul (tidak diketahui keadaannya). Maka jika suatu riwayat atau hadits yang didalam sanadnya terdapat rowi majhul, baik majhul ‘ain atau majhul hal haditsnya tidak dapat diterima terlebih dijadikan sebagai sandaran.

(haulasyiah -meluruskan-pemahaman-tentang-shahabat-muawiyah-bag1)

Akan tetapi usaha itu, sepertinya memilukan dan sekaligus memalukan, sebab;

Pertama: Pengingkar pernyataan itu harus mengajukan bukti bahwa ia majhûl atau pencacatan lainnya oleh sebagian ahli Jarh wa ta’dîl, sebab tidak benar menerima pencacatan yang tidak disertai dengan pembuktian.

Kedua: Ternyata pernyataan dan penegasan Ishaq ibn Râhawai al-Handhali telah dinukil dan dibenarkan oleh para pakar, peneliti dan korektor hadis ulung Ahlusunnah…. setiap kali berbicara tentang cacatnya hadis-hadis keutamaan Mu’awiyah yang banyak beredar di kalangan sebagian masyarakat berkat usaha getol pemalsu, para ulama tersebut mengajukan pernyataan Ishaq sebagai bukti penguat dan penegasan seorang pakar yang mumpuni di bidangnya dengan menyebut silsilah, mata rantai riwayat penukilannya tanpa sedikitpun mempermasalahkannya atau mempermasalahkan kejujuran si penukilnya! Bukankah ini bukti kuat bahwa pernyataan itu bersih dari tuduhan yang dilontarkan para pemuja kesesatan Mu’awiyah?!

Ketiga: Selain itu tidak jarang kita menemukan di antara pakar dan korektor hadis Ahlusunnah yang menyebutkan penegasan Ishaq tersebut dengan tanpa menyebut silsilah, mata rantai riwayat yang menyambungkan kepada Ishaq, dan memastikan bahwa demikianlah pendapat dan penegasan Ishaq ibn Rahawaih al-Handhali! Dan itu artinya bahwa kebenaran bahwa pernyataan itu benar-benar telah diucapkan Ishaq ibn Rahawaih adalah sesuatu yang masyhur dan pasti sehingga tidaklah terlalu perlu untuk repot-repot menyebutkan sanadnya. Penyebutan sanad itu diperlukan untuk sesuatu yang belum pasti!

Keempat: Andai mereka telah rampung mencacat dan melemahkan pernyataan Ishaq ibn Rahawaih, lalu apa yang mereka katakan tentang pernyataan sertupa dari Imam an-Nasa’i dan ulama lain dan dari Ibnu Hajar, al-Mubârakfûri dan lain-lain? Apa pendapat mereka tentang pernyataan Imam Ahmad ibn Hanbal, seperti akan kami sebutkan di bawah nanti?

Di bawah ini, saya ajak para pemerhati untuk menyimak komentar para pakar dan korektor hadis Ahlusunnah tentang pernyataan Ishaq al-Handhali.

1) Ibnu al-Jawzi (w. 507H)

Setelah menyebutkan beberapa contoh hadis palsu buatan kaum munafikun yang memuji Mu’awiyah, Ibnu al- Jawzi mengakhirinya dengan menyebutkan pernyataan Ishaq ibn Rahawaih sebagai bukti penguat bahwa tidak satupu hadis fadhâil Mu’awiyah yang shahih.

Dengan sanad bersambung kepada Ya’qub ibn Yusuf, ia berkata, “Aku mendengar Ishaq ibn Ibrahim al-Handhali (Ibnu Râhawaih) berkata:

لا يَصِحُّ عن النبي (ص) فِيْ فضلِ معاوية بن أبي سفيان شيْيٌْ.

“Tidak shahih sesuatu apapun dari Nabi saw. tentang keutamaan Mu’awiyah.”

Kemudian ia mendukungnya dengan penegasan Imam Ahmad ibn Hanbal yang membongkar latar belakang pemalsuan atas nama Nabi saw. untuk memuji Mu’awiyah.

Abdullah putra Imam Ahmad bertanya kepada ayahnya, “Apa pendapatmu tentang Ali dan Mu’awiyah? Lalu ia menundukkan kepalanya sejenak kemudian berkata:

إيشْ أقول فيهِما. إنَّ علِيُّا عليه اللسلام كان كثيرَ الأَعداء، فَفَتَّشَ أَعداْؤه لَهُ عيبًا فلَمْ يَجِدُوه، فَجاءُوا إلى رجُلٍ قد حاربَهُ و قاتلَهُ فَأَطروه كيادًا منهم لهُ.

“Apa yang harus aku katakan tentang keduanya? Sesunggguhnya Ali (‘Alaihis Salam) adalah seorang yang banyak musuhnya, maka musuh-musuhnya mencari-cari kesalahanya, namun mereka tidak menemukannya, lalu mereka menuju kepada seorang yang telah memeranginya untuk mereka puji sebagai makar jahat mereka terhadap Ali.” (Baca al-Mawdhû’at; Ibnu al Jawzi,1/335)

Inilah khitam miski, penutup yang indah yang disebutkan Ibnu al-Jawzi ketika menutup rangkaian pembuktian kepalsuan hadis-hadis keutamaan Mu’awiyah.

Dan pada pernyataan Imam Ahmad di atas terlihat jelas bagi kita motivasi pemalsuan hadis keutamaan Mu’awiyah atas nama Nabi saw. atau pujian lain dari para sahabat atau lainnya. Ia hanya murni kepalsuan yang dimotivasi oleh kedengkian…. Dan kedengkian itu sekarang diwarisi oleh para pendengki dan musuh-musuh Imam Ali as, dengan memuji Mu’awiyah dan membela kesesatannya.

2) Al-Aini

Dalam syarah Bukharinya, al-‘Aini menegaskan, “Jika Anda berkata, ‘Telah datang banyak hadis tentang fadhîlah/keutamaan Mu’awiyah’, maka saya akan menjawabnya, ‘Ya, benar, akan tetapi tidak satupun yang shahih dari sisi sanadnya. Demikian nashsha, ditegaskan oleh Ibnu Râhawai dan an-Nasa’i serta ulama lainnya. Karenanya Bukhari dalam Shahihnya berkata, ‘Bab yang menyebut Mu’awiyah’ beliau tidak mengatakan bab tentang keutamaan atau keistimewaan.!

3) Ibnu Hajar al-Asqallani (w. 852H)

Ibnu Hajar al-Asqallâni mempertegas masalah ini ketika ia menjelaskan alasan penamaan bab dengan Bab Dzikru Mu’awiyah (sebutan Mu’awiyah) oleh Bukahri…. ia menyebutkan mengapa Imam Bukhari tidak menyebut nama bab itu dengan bab keutamaan Mu’awiyah? Sebab keutamaan tidak dapat disimpulkan dari hadis dalam bab tersebut….

Ibnu Hajar juga menyebutkan antek-antek Mu’awiyah dan Bani Umayyah yang dengan tanpa rasa malu menulis buku yang menghimpun hadis-hadis palsu keutamaan Mu’awiyah. Para antek tersebut adalah Ibnu Abu ‘Âshim, Abu Umar, Gulam Tsa’lab dan Abu Bakar an-Naqqâsy.

Setelahnya, Ibnu Hajar mengutip penegasan Ishaq ibn Râhawai seperti yang dikutip Ibnu al-Jawzi dan juga penegasan Imam Ahmad. Dan setelahnya Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pernyataan Imam Ahmad itu menunjuk kepada hadis-hadis palsu yan diproduksi para pemalsu. Setelahnya Ibnu Hajar mempertegas dengan mengatakan:

وقَد ورد في فضائل معاوية أحاديثُ كثيرةٌ لكن ليسَ فيها ما يَصِحُّ من طريق الإسناد، و بذلكَ جزمَ إسحاق بن راهويه و النسائي و غيرُهما.

“Dan telah datang banyak hadis tentang keutamaan Mua’wiyah akan tetapi tidak satupun yang shahih dasi sisi sanad. Dan dengan ini Ibnu Râhawai dan an-Nasa’i serta lainnya menegaskan.” (Baca Fath al-Bâri,14/254-255)

Di sini Anda saksikan bahwa Ibnu Hajar –Khatimatul Huffâdz, penutup para pakar hadis, korektor ulung sunnah- telah memastikan bahwa demikianlah pendapat Ishaq ibn Râhawai, an-Nasa’i dan beberapa ulama lain. Ia tidak sedikit pun mengesankan adanya keraguan pada kebenaran penukilan ucapan dan pandangan itu!

4) As Suyuthi (w.911 H)

Dalam kitab al-La’âli al-Mashnû’ah, Jalaluddin as-Suyuthi menukil penegasan Ishaq ibn Râhawai dengaan tanpa sedikit pun mengisyaratkan adanya cacat pada jalur penukilannya. Bahkan penegasan itu ia sebutkan sebagai bukti kebenaran kesimpulan yang ia yakini. (baca al-La’âli al-Mashnû’ah,1/424. Maktabah at-Tijâriyah-Mesir)

5) Asy-Syaukâni (w.1250 H)

Dalam kitab al-Fawâid al-Majmû’ah, Asy-Syaukâni juga menukil pernyataan Ishaq ibn Râhawaih ketika menutup serangkaian pembuktian kepalsuan hadis-hadis keutamaan Mu’awiyah, dan beliau tidak sedikitpun mempermasalahkan para perawi dalam sanad penukilan tersebut. (Baca al-Fawâid al-Majmû’ah:407. Dar al-Kotob al-Ilmiyah-Beirut)

6) Al Mubârakfûri (w. 1353H)

Dalam at-uhfah al-Ahwadzi yang ditulis untuk mensyarahkan kitab Sunan at-Turmudzi, penulisnya; al-Mubârakfûri menegaskan, “Ketahuilah bahwa telah datang banyak hadis tentang keutamaan Mu’awiyah, akan tetapi tidak satupun darinya yang shahih dari sisi sanad. Dan dengan ini Ibnu Râhawai dan an-Nasa’i serta lainnya menegaskan.”

Kemudian beliau menyebutkan pernyataan Ishaq ibn Râhawai dan Imam Ahmad sebagai dikutip Ibnu al-Jawzi, tanpa sediktipun meragukan keshahihan penukilan tersebut!

Bahkan lebih dari itu, dua hadis yang dibawakan at-Turmudi tentang keutamaan Mu’awiyah ia tegakan sebagai tidak shahih.

Hadis pertama:

Dari Nabi saw. beliau bersabda:

“Ya Allah jadikan Mu’awiyah seorang pemberi petunjuk dan diberi ia petunjuk dan berilah petunjuk orang lain dengannya.”

Tentang hadis ini ia menegaskan, “Al-Hâfidz berkata, ‘Sanadnya tidak shahih.’”

Hadis kedua:

“Ya Allah berilah petunjuk orang dengan Mu’awiyah.”

Hadis ini ia pastikan bahwa pada mata rantai periwayatannya terdapat seorang yang bernama Amr ibn Wâqid ad-Dimasyqi, ia matrûk/harus dibuang hadisnya. (Baca at-Tuhfah al-Ahwadzi,10/ 339-340. al-Maktabab as-Salafiyah- Madinah munawwarah).

Demikianlah kita saksikan bagaimana para ulama, pakar dan korektor hadis telah sepakat menukil dan membenarkan pernyataan tersebut dari Ishaq ibn Rahawaih.

Lalu apa nilai pengingkaran antek-antek bani Umayyah di zaman kita ini? Tidak ada alasan lain bagi mereka selain semangat menyanjung Mu’awiyah seperti yang pernah dilakuakkn para pendahulu mereka yang dikecam Imam Ahmad ibn Hambal. Apa yang mereka lakukan hari ini sama dengan apa yang dilakukan para pendahulu mereka. Hati mereka serupa!

Maha benar Allah dengan firman-Nya:

كَذَلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْ .

“Demikian pula, orang-orang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka ini. Hati mereka serupa.” [QS. Al Baqaraah [2];118]

Bahaya Pemalsuan Hadis atas Nama Nabi saw.


<<<<< Pangeran Muawiyahhiks

Para Pemalsu Yang Shaleh

Pemalsuan hadis Nabi saw. tidak terbatas hanya dilakukan musuh-musuh Islam, kaum munafikin dan penyandang ide-ide sesat, akan tetapi, seperti telah disinggung, kaum “Shalihin” juga berperan aktif dalam melakukan pemalsuan hadis atas nama Rasulullah saw. Mereka melakukannya dengan anggapan mereka berbuat baik kepada agama dan mangharap pahala dari Allah SWT!

Apabila ada yang bertanya kepada salah seorang dari mereka mengapa kamu membuat-buat kebohongan atas nama Nabi saw.?! Ia dengan penuh percaya diri mengatakan saya sedang berbuat baik untuk Nabi saw., karena dengan itu saya mengarahkan umat kepada agama beliau! Saya tidak berbohong yang merugikan beliau, tetapi justru menguntungkan agama beliau!

Ibnu Hajar berkata, “Dan sebagian kaum bodoh telah tertipu, mereka membuat-buat hadis palsu tentang anjuran dan ancaman, mereka berkata, ‘Kami tidak berbohong yang merugikan Nabi saw., akan tetapi kami melakukannya untuk menguatkan syari’at beliau!’”[1]

Mereka adalah paling berbahayanya para pemalsu, sebab banyak orang tertipu dengan polesan luar kezuhudan dan kesalihan mereka. Ketika menerangkan macam-macam pemalsu hadis, An Nawawi dan As Suyuthi menerangkan, “Para pemalsu itu bermacam-macam, yang paling besar dampak bahayanya adalah kaum yang dianggap zuhud, mereka memalsu hadis dengan anggapan mencari pahala (di sisi Allah), oleh karenanya hadis-hadis palsu mereka diterima karena kepercayaan orang terhadap mereka”.

Oleh sebab itu Yahya ibn Al Qaththân berkata, “Aku tidak menyaksikan kebohongan pada sebuah komunitas lebih banyak dari komunitas kaum yang dinisbatkan (dianggap) saleh”.

Salah satu contoh hadis palsu produk mereka adalah apa yang diriwayatkan Al Hakim dengan sanadnya dari Abi Ammar Al Marwazi, dikatakan kepada Abu Ishmah Nuh ibn Abi Maryam, “Dari manakah kamu peroleh hadis tentang keutamaan surah demi surah Al quran ini dari jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas, sementara murid-murid Ikraimah tidak ada yang meriwayatkannya? Ia menjawab, “Aku menyaksikan orang-orang telah berpaling dari Al quran dan mereka sibuk dengan fikih Abu Hanifah, kitab sejarah Ibnu Ishaq maka saya buatkan hadis ini dengan harapan mendapat pahala”.

Perlu diketahui tentang Abu Ishmah Nuh ini, bahwa ia adalah seorang ulama yang telah menguasai banyak disiplin ilmu Islam, tetapi sayang ada satu yang tidak ia miliki yaitu kejujuran. Ibnu Hibban berkata, “Ia mengumpulkan segala sesuatu kecuali kejujuran”. Al Dzahabi berkata, “Ia digelari Al Jaami’ (yang merangkum) sebab ia belajar fikih dari Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila, belajar hadis dari Hajjaj ibn Arthah, belajar tafsir dari Al Kalbi dan Muqatil, dan belajar sejarah Islam dari Ibnu Ishaq… ia menduduki jabatan sebagai qadhi, jaksa tinggi di kota Maru, ia berumur panjang dan mampu mengumpulkan banyak kesempurnaan kecuali kejujuran”.

Nama-nama Para Pemalsu Yang Shaleh

1. Abu Daud Al Nakha’i

Contoh lain pamalsu hadis yang shaleh adalah Abu Daud Al Nakha’i. Ia adalah seorang yang paling panjang bangun malamnya, paling banyak puasa di siang harinya, tetapi ia gemar memalsu hadis!

2. Abu Bisyri Ahmad ibn Mumahhad Al Faqîh Al Marwazi

Ibnu Hibban berkata, “Abu Bisyri Ahmad ibn Mumahhad Al Faqîh Al Marwazi salah satu yang paling gigih dalam membela sunnah dan paling tegas terhadap yang menyalahinya, tetapi ia gemar membuat hadis-hadis palsu.”

3. Wahb ibn Hafsh

Ibnu Adiy berkata, “Wahb ibn Hafsh termasuk kaum Shalihin, ia pernah berdiam diri tidak berbicara kepada siapapun selama dua puluh tahun, tetapi ia suka berbohong dalam hadis dengan kebohongan yang keji”.[2]

4. Harb ibn Maimûn al Abdi

Harb ibn Maimûn al Abdi; Abu Abdillah al Bashri, seorang mujtahid, abid (ahli ibadah), tetapi ia paling pembohongnya orang.[3]

5. Haytsam ath Thâi

Haitsam ibn Adi ath Thâi (W:207H), seorang pembohong besar, tidak bernilai sedikitpun. Budak wanitanya bertutur, “Tuanku selalu bangun di malam hari untuk salat, dan apabila masuk waktu pagi ia duduk (di majlisnya) mengobral kebohongan.[4]

6. Muhammad ibn Ibrahim asy Syâmi.

Muhammad ibn Ibrahim asy Syâmi; Abu abdillah, ia digelari az zahid (seorang yang zuhud). Ia adalah seorang kadzdzâb, wadhdhâ’, punya kebiasa memalsu hadis. Rata-rata hadisnya adalah tidak pernah dihafal muhaddis lain. Tidak halal meriwayatkan darinya kecuali untuk mengambil pelajaran dari kepalsuannya. Ia terhitung dari kaum zuhud.[5]

7. Al Hâfidz Abdul Mughîts al Hanbali.

Nama lengkapnya Bdul Mughîts ibn Zuhair ibnAlawi al Harbi al Hanbali al Baghdadi (W.583H). salah seorang huffâdz (ahli hadis kelas atas). Para ulama mensifatinya dengan amanat, kesalihan, kesunguhan dalam ibadah dan berpegang dengan Sunnah.

Kendati demikian ia mengarang sebuah buku tentang keutamaan Yazid ibn Muawiyah, yang di dalamnya ia penuhi dengan hadis-hadis palsu. Ibnu Jawzi menulis sebuah buku sebagai bantahan atasnya dengan judul ar Radd ‘ala al Muta’shshib al ‘anîd al Mâni’ min Dzammi Yazîd (Bantahan atas orang yang Fanatik lagi Degil Yang Melarang Mengecam Yazid)[6]

8. Mu’alla ibn Shubaîh

Mu’alla ibn Shubaih al Mûshili. Ibnu Ammar berkata tentangnya, “Ia tergolong ahli ibadah warga kota Mosel. Ia gemar memalsu hadis dan berbohong.”[7]

9. Mu’alla ibn Hilâl

Mu’alla ibn Hilal ibn Suwaid ath Thahhân al Kûfi al ‘Abid (sang ahli ibadah) ia seorang pembohong besar yang sangat terkenal dengan kegemaran memalsu hadis. Ahmad berkata, “Semua hadis riwayatnya adalah palsu.”[8]

10. Muhammad ibn ‘Ukâsyah

Muhammad ibn ‘Ukâsyah al Kirmâni, pembohong besar, pemalsu hadis dan menyampaikan hadis-hadis bathil. Ia seorang yang mudah menangis (karena terharu) sehingga dikenal dengan gelar itu. Jika ia membaca Al qur’an ia menetetskan air mata dan menangis. Telah dinukil dari al Hafidz as Sirri ia berkata, “Ahmad al Juwaibari, Muhammad ibn Tamî dan Muhammad ibn ‘Ukâsyah telah memalsu hadis atas nama Rasulullah saw. Sebanyak 10 ribu hadis.”[9]

Dalam at Tidzkâr-nya:155, al Qurthubi menggoleongkannya dalam kelompok para pemalsu hadis demi merangsang orang-orang untuk mengerjakan keutamaan amalan, fadhâilul a’mâl.

(Bersambung)



[1] Fath Al Bâri,1/161.

[2] An Nawawi, Taqrîb ,1/282-283.

[3] Tahdzib at Tahdzib,2/227 dan Khulashah at Tahdzib:63.

[4] Tarikh Baghdad,14/52, Mizân al I’tidâl,3/265, Nashbu ar Râyah,1/102, al Laâli al Mashnû’ah,2/3 dan Majma’ az Zawâid,10/10.

[5] Mizân al I’tidâl,3/11, Tadzkiratul Mawdhû’at:36,71,104 dan105, Tahdzib at Tahdzib,9/14 dan al Laâli al Mashnû’ah,2/92 dan 100.

[6] Kitab ini telah diterbitkan oleh Dâr al Kotob al Ilmiah-Beirut.

[7] Lisân al Mizan,6/64.

[8] Tarikh Baghdad,8/63, Thabqât al Huffâdz,3/112, Mizan al I;tidal,3/187 dan al Laâli al Mashnû’ah,2/47.

[9] Mizan al I;tidal,3/104, al Laâli al Mashnû’ah,2/34,1347 dan 200..

Bahaya Pemalsuan Hadis Atas Nama Nabi saw.


<<<<<<< Kaisar Muawiyah

Bahaya Pemalsuan Hadis Atas Nama Nabi saw.

Para Pemalsu Yang Shaleh

Pemalsuan hadis Nabi saw. tidak terbatas hanya dilakukan musuh-musuh Islam, kaum munafikin dan penyandang ide-ide sesat, akan tetapi, seperti telah disinggung, kaum “Shalihin” juga berperan aktif dalam melakukan pemalsuan hadis atas nama Rasulullah saw. Mereka melakukannya dengan anggapan mereka berbuat baik kepada agama dan mangharap pahala dari Allah SWT! Apabila ada yang bertanya kepada salah seorang dari mereka mengapa kamu membuat-buat kebohongan atas nama Nabi saw.?! Ia dengan penuh percaya diri mengatakan saya sedang berbuat baik untuk Nabi saw., karena dengan itu saya mengarahkan umat kepada agama beliau! Saya tidak berbohong yang merugikan beliau, tetapi justru menguntungkan agama beliau! Ibnu Hajar berkata, “Dan sebagian kaum bodoh telah tertipu, mereka membuat-buat hadis palsu tentang anjuran dan ancaman, mereka berkata, ‘Kami tidak berbohong yang merugikan Nabi saw., akan tetapi kami melakukannya untuk menguatkan syari’at beliau!’ [1]

Mereka adalah paling berbahayanya para pemalsu, sebab banyak orang tertipu dengan polesan luar kezuhudan dan kesalihan mereka. Ketika menerangkan macam-macam pemalsu hadis, An-Nawawi dan As-Suyuthi menerangkan: “Para pemalsu itu bermacam-macam, yang paling besar dampak bahayanya adalah kaum yang dianggap zuhud, mereka memalsu hadis dengan anggapan mencari pahala (di sisi Allah), oleh karenanya hadis-hadis palsu mereka diterima karena kepercayaan orang terhadap mereka”. Oleh sebab itu Yahya ibn Al-Qaththân berkata, “Aku tidak menyaksikan kebohongan pada sebuah komunitas lebih banyak dari komunitas kaum yang dinisbatkan (dianggap) saleh”. Salah satu contoh hadis palsu produk mereka adalah apa yang diriwayatkan Al-Hakim dengan sanadnya dari Abi Ammar Al Marwazi, dikatakan kepada Abu Ishmah Nuh ibn Abi Maryam:

“Dari manakah kamu peroleh hadis tentang keutamaan surah demi surah Al-Qur’an ini dari jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas, sementara murid-murid Ikrimah tidak ada yang meriwayatkannya? Ia menjawab, “Aku menyaksikan orang-orang telah berpaling dari Al-Qur’an dan mereka sibuk dengan fikih Abu Hanifah, kitab sejarah Ibnu Ishaq maka saya buatkan hadis ini dengan harapan mendapat pahala”.

Perlu diketahui tentang Abu Ishmah Nuh ini, bahwa ia adalah seorang ulama yang telah menguasai banyak disiplin ilmu Islam, tetapi sayang ada satu yang tidak ia miliki yaitu kejujuran. Ibnu Hibban berkata, “Ia mengumpulkan segala sesuatu kecuali kejujuran”. Al Dzahabi berkata, “Ia digelari Al Jaami’ (yang merangkum) sebab ia belajar fikih dari Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila, belajar hadis dari Hajjaj ibn Arthah, belajar tafsir dari Al Kalbi dan Muqatil, dan belajar sejarah Islam dari Ibnu Ishaq… ia menduduki jabatan sebagai qadhi, jaksa tinggi di kota Maru, ia berumur panjang dan mampu mengumpulkan banyak kesempurnaan kecuali kejujuran”.

Nama-nama Para Pemalsu Yang Shaleh

1. Abu Daud Al Nakha’i

Contoh lain pamalsu hadis yang shaleh adalah Abu Daud Al Nakha’i. Ia adalah seorang yang paling panjang bangun malamnya, paling banyak puasa di siang harinya, tetapi ia gemar memalsu hadis!

2. Abu Bisyri Ahmad ibn Mumahhad Al Faqîh Al Marwazi

Ibnu Hibban berkata, “Abu Bisyri Ahmad ibn Mumahhad Al Faqîh Al Marwazi salah satu yang paling gigih dalam membela sunnah dan paling tegas terhadap yang menyalahinya, tetapi ia gemar membuat hadis-hadis palsu.”

3. Wahb ibn Hafsh

Ibnu Adiy berkata, “Wahb ibn Hafsh termasuk kaum Shalihin, ia pernah berdiam diri tidak berbicara kepada siapapun selama dua puluh tahun, tetapi ia suka berbohong dalam hadis dengan kebohongan yang keji”. [2] 4. Harb ibn Maimûn al Abdi

Harb ibn Maimûn al Abdi; Abu Abdillah al Bashri, seorang mujtahid, abid (ahli ibadah), tetapi ia paling pembohongnya orang. [3]

5. Haytsam ath Thâi

Haitsam ibn Adi ath Thâi (W:207H), seorang pembohong besar, tidak bernilai sedikitpun. Budak wanitanya bertutur, “Tuanku selalu bangun di malam hari untuk salat, dan apabila masuk waktu pagi ia duduk (di majlisnya) mengobral kebohongan. [4]

6. Muhammad ibn Ibrahim asy Syâmi.

Muhammad ibn Ibrahim asy Syâmi; Abu abdillah, ia digelari az zahid (seorang yang zuhud). Ia adalah seorang kadzdzâb, wadhdhâ’, punya kebiasa memalsu hadis. Rata-rata hadisnya adalah tidak pernah dihafal muhaddis lain. Tidak halal meriwayatkan darinya kecuali untuk mengambil pelajaran dari kepalsuannya. Ia terhitung dari kaum zuhud. [5]

7. Al Hâfidz Abdul Mughîts al Hanbali.

Nama lengkapnya Abdul Mughîts ibn Zuhair ibn Alawi al Harbi al Hanbali al Baghdadi (W.583H). salah seorang huffâdz (ahli hadis kelas atas). Para ulama mensifatinya dengan amanat, kesalihan, kesunguhan dalam ibadah dan berpegang dengan Sunnah.Kendati demikian ia mengarang sebuah buku tentang keutamaan Yazid ibn Muawiyah, yang di dalamnya ia penuhi dengan hadis-hadis palsu. Ibnu Jawzi menulis sebuah buku sebagai bantahan atasnya dengan judul ar Radd ‘ala al Muta’shshib al ‘anîd al Mâni’ min Dzammi Yazîd (Bantahan atas orang yang Fanatik lagi Degil Yang Melarang Mengecam Yazid) [6]

8. Mu’alla ibn Shubaîh

Mu’alla ibn Shubaih al Mûshili. Ibnu Ammar berkata tentangnya, “Ia tergolong ahli ibadah warga kota Mosel. Ia gemar memalsu hadis dan berbohong.” [7]

9. Mu’alla ibn Hilâl

Mu’alla ibn Hilal ibn Suwaid ath Thahhân al Kûfi al ‘Abid (sang ahli ibadah) ia seorang pembohong besar yang sangat terkenal dengan kegemaran memalsu hadis. Ahmad berkata, “Semua hadis riwayatnya adalah palsu.” [8]

10. Muhammad ibn ‘Ukâsyah

Muhammad ibn ‘Ukâsyah al Kirmâni, pembohong besar, pemalsu hadis dan menyampaikan hadis-hadis bathil. Ia seorang yang mudah menangis (karena terharu) sehingga dikenal dengan gelar itu. Jika ia membaca Al qur’an ia menetetskan air mata dan menangis. Telah dinukil dari al Hafidz as Sirri ia berkata, “Ahmad al Juwaibari, Muhammad ibn Tamî dan Muhammad ibn ‘Ukâsyah telah memalsu hadis atas nama Rasulullah saw. Sebanyak 10 ribu hadis.” [9]

Dalam at Tidzkâr-nya:155, al Qurthubi menggolongkannya dalam kelompok para pemalsu hadis demi merangsang orang-orang untuk mengerjakan keutamaan amalan, fadhâilul a’mâl.

Dan dalam kesempatan akan datang akan kami sebutkan data-data dan nama lain yang terlibat dalam pemalsuan hadis atas nama Nabi saw.

(Bersambung)

________________________

[1] Fath Al Bâri,1/161.

[2] An Nawawi, Taqrîb ,1/282-283.

[3] Tahdzib at Tahdzib,2/227 dan Khulashah at Tahdzib:63.

[4] Tarikh Baghdad,14/52, Mizân al I’tidâl,3/265, Nashbu ar Râyah,1/102, al Laâli al Mashnû’ah,2/3 dan Majma’ az Zawâid,10/10.

[5] Mizân al I’tidâl,3/11, Tadzkiratul Mawdhû’at:36,71,104 dan105, Tahdzib at Tahdzib,9/14 dan al Laâli al Mashnû’ah,2/92 dan 100.

[6] Kitab ini telah diterbitkan oleh Dâr al Kotob al Ilmiah-Beirut.

[7] Lisân al Mizan,6/64.

[8] Tarikh Baghdad,8/63, Thabqât al Huffâdz,3/112, Mizan al I;tidal,3/187 dan al Laâli al Mashnû’ah,2/47.

[9] Mizan al I;tidal,3/104, al Laâli al Mashnû’ah,2/34,1347 dan 200..

Ibnu Rahawaih: Tidak Sahih Satupun Dari Hadis Keutamaan Mu’awiyah.

Ibnu Rahawaih: Tidak Sahih Satupun Dari Hadis Keutama’an Mu’awiyah.

Bantahan atas artikel

SEKELUMIT TENTANG KEUTAMA’AN MUAWIYAH BIN ABI SUFYAN

Tentang Hadis Keutamaan Mu’awiyah ibn Abi Sufyân

Di antara ciri kaum Nawashib di masa silam maupun sekarang ialah apabila disebut keutamaan dan keistimewaan Ali as., mereka bercepat-cepat mengingkarinya, itu pasti mereka lakukan selagi mereka bisa, dan apabila pintu pengingkaran tertutup di hadapan mereka, maka penta’wilan dengan ta’wilan yang menyimpang, dan apabila jalan ini juga tertutup, maka mereka berusaha membuat-buat hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali as. untuk dijadikan tandingan… dan dikemudian hari kaum Nawashib kontemporer bekerja keras menyebar luaskan hadis-hadis palsu itu.

Hadis-hadis palsu itu tersebar luas di kalangan para pemuja bani Umayyah di setiap generasi. Mereka mewairskannya generasi demi generasi, dan di atara hadis palsu itu adalah riwayat-riwayat keutamaan Mu’awiyah ibn Abi Sufyân.

Al Mubarakfûri -pensyarah kitab Sunan at Turmudzi- menegaskan, “Ketahuilah bahwasannya telah datang banyak riwayat hadis tentang keutamaan Mu’awiyah, akan tetapi tidak ada darinya yang sahih sanadnya”. Demikian ditegaskan Ishaq ibn Rahawaih dan an Nasda’i serta para ulama selain keduanya.

Dan Abu ‘Ashim telah mengarang sebuah buku tentang keutamaannya (Mu’awiyah), demikian juga dengan Abu Amr, Ghulam Tsa’lab dan Abu Bakar an Naqqâsh. Ibnu al jauzi telah menyebutkan dalam kitab al Maudh’ât-nya beberaa hadis yang mereka sebutkan, kemudian beliau menyebutkan dengan sanad bersambnung keada Ibnu Rahawaih bahwa ia berkata, ‘Tidak sahih satupun dari hadis keutamaan Mu’awiyah. Ibnu al Jauzi juga meriwayatkan dari jalur Abdullah putra Imam Ahmad, bahwa ia bertanya kepada ayahnya, ‘Apa pendapatmu tentang Ali dan Mu’awiyah? Maka beliau menundukkan kepalanya sejenak kemudian berkata: ‘Ketahuliah bahwa Ali banyak musuhnya, maka musuh-musuhnya mencari-cari kesalahannya namun mereka tidak menemukannya, lalu mereka mengangkat dan memuja-muja orang yang telah memeranginya sebagai bentuk makar dari mereka terhadap Ali.’” Al Mubarakfûri menerangkan maksud ucapam Imam Ahmad itu dengan hadis-hadis palsu tentang Mu’awiyah yang dibuat-buat oleh mereka (musuh-musuh Ali as.) yang sama sekali tidak punya asal muassal. Demikian diterangkan dalam Fathu al Bâri.

Maka dari ketarnagn para ulama itu jelaslah bagi kita bahwa hadis-hadis palsu itu adalah hasil kejahatan musuh-musuh Imam Ali as. dalam upaya mereka untuk meluapkan kedengkian mereka kaepada Imam Ali as.

Dan yang tidak boleh kita lupakan ialah bahwa Mu’awiyah memiliki andil besar dalam pemalsuan tersebut. Itu semua tidaklah heran bagi kita, memang musuh-musuh Ali as. pasti akan berbuat dengan segala cara dan upaya untuk menjatuhkan Ali as. dan atau mengunggul-unggulkan musuh-musuh Imam Ali as., akan tetapi yang mengherankan adalah setelah terbukti bahwa hadis-hadis seprti itu adalah palsu di mata ulama besar Ahlusnnah masih ada orang yang mangaku Ahlusunnah menyebarluaskan hadis-hadis palsu itu atas nama Nabi mulia saw. dan berani dengan tanpa asalan mengatakan bahwa ia adalah hadis shahih.

Ini adalah sebuah musibah besar atas Islam dan kaum Muslimin. Innâ lilahi wa innâ ilaihi râji’ûn.

Dalam blog haulasyiah ditulis sebuah artikel denagn judul: SEKELUMIT TENTANG KEUTAMAAN MU’AWIYAH BIN ABI SUFYAN yang dipenuhi dengan sebuah riwayat palsu tersebut.

Ibnu Jakfari berkata:

Hai anda yang mengaku sebagai pembela Islam ketahuilah bahwa apa yang kamu lakukan itu adalah sebuah bentuk penipuan terhadap hakikat Islam yang cemerlang. Engkau menukil hadis palsu dari riwayat at Turmudzi, tetapi melupakan keterangan para ulama Islam Ahlusunnah yang menvonis akan ketidak shahihan hadis tesebut. Adakah pengkhianatan yang melebihi itu?

Perhatikan komentar al Mubarakfûri tentang hadis yang kamu sebutkan di atas.

Parawi hadis itu yang mengaku mendengar langsung dari mulut suci Rasulullah saw. adalah bernama Abdurrahman ibn Abi ‘Umair. Al Azdi berkata tentangnya, ‘Ia diperselisihkan persahabatannya (dengan Nabi saw.), ia tinggal di kota Hims, demikian disebutkan dalam at Taqrîb.

Dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb disebutkan, ‘Ia hanya memilki satu hadis saja dalam Sunan at Turmudzi tentang sebutan Mu’awiyah.’ Al Hafidz berkata, ‘Ibnu Abdil Barr berkata, ‘Tidak benar ia pernah bersahabat dengan Nabi saw., dan tidak benar pengisnadan hadisnya.’”

Kendati at Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib, akan tetapi al hafidz Ibnu Hajar memastikan bahwa hadis ini sanadnya tidak shahih, Isnâduhu laisa bishahîh, seperti telah anda ketahui ketika menyebut biografi Abdurraman ibn Abi ‘Umair.

Hadis kedua yang juga disebutkan at Turmudzi pada sanadnya terdapat periwayat bernama Amr ibn Wâqid ad Dimasyqi, ia matrûkul hadîts (hadisnya dibuang). Penyebutan status seperti di atas hanya benar disematkan untuk seorang periwayat yang banyak meriwayatkan hadis-hadis ngawur yang tidak benar di kalangan para ahli hadis.

Setelah keterangan singkat di atas, maka tidaklah heran apabila kaum Nawashib Modern tetap saja bersemangat menyebar luaskan hadis-hadis palsu keutamaan Tuan dan Junjungan Besar mereka Mu’awiyah, sebab kalau harus menanti hadis shahih, maka kapan kesempatan itu akan mereka peroleh.

Saya akan mengakhairi artikel ini dengan menyebut ulang hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya yang ia sifati dengan al atsar al masyhûr, berita yang masyhur/tersohor:

مَنْ حدَّثَ عَنِّيْ بِحديثٍ يرَى أنهُ كذِبٌ فَهو أحد الكاذِبَيْنِ.

“Barang siapa menyampaikan hadis dariku sementara ia mengetahui bahwa ia adalah palsu maka ia seorang dari dua pembohong”. [1]

Catatan:

Adapaun penshahihan Albani yang dibanggakan penulis itu dalam blog halusyiah adalah tidak berarti sebab selain tidak berdasar, ia bertentangan dengan vonis tidak shahih oleh para pakar hadis kenamaan Ahlusunnah yang tidak diragukan lagi kualitas dan bobotnya serta jauhnya mereka dari tendensi kemazhaban, berbeda halnya dengan Albani yang sering menampakkan ketidak sehatan sikapnya dalam menilai hadis-hadis keutamaan Ahlulbait as. atau musuh-musuh Ahlulbait.

***************************************

Dibawah ini artikel blog “Haulasyiah” yang kami Sanggah:

-SEKELUMIT TENTANG KEUTAMA’AN MUAWIYAH BIN ABI SUFYAN-

Ditulis oleh haulasyiah di/pada September 16th, 2007

Mu’awiyah bin Abi Sufyan, seorang shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, sekaligus sebagai penulis wahyu untuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Telah diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dalam kitab beliau Al-Jami’ serta yang lainnya (hadits no. 4113) —berdasarkan peletakan nomor Asy-Syaikh Al-Albani— dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Umairah, seorang shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah meriwayatkan dari beliau, bahwa beliau berdo’a untuk Mu’awiyah :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًا، وَ اهْدِ بِهِ.

“Ya Allah, jadikanlah dia (Mu’awiyah) seorang yang bisa memberikan petunjuk dan seorang yang diberi petunjuk dan berikanlah hidayah (kepada manusia) melaluinya.”

Dalam referensi yang ada pada kami, hadits ini tercantum dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dengan nomor hadits 3842, tepatnya dalam Kitabul Manaqib. Hadits ini dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah no. 1969 dengan pembahasan atau rincian yang cukup panjang.

Muawiyah tercinta??????


Mushaf Usmani

Keutamaan Penulis Wahyu?

Suatu ketika pernah saya membaca buku seorang Syaikh Salafy yang berkaitan dengan keutamaan Muawiyah. Kurang lebih Syaikh itu mengecam mereka yang menjelek-jelekkan Muawiyah. Syaikh itu menuduh mereka yang menolak keutamaan Muawiyah sebagai antek-antek orientalis yang ingin menjatuhkan nama Islam. Menurutnya Muawiyah adalah seorang penulis wahyu dan menolak hal ini sama halnya dengan meragukan Al Quran sendiri.

.

Alasan ini terlalu aneh bagi saya. Bukankah yang menulis wahyu itu ada banyak dan lagipula apa benar menjadi penulis wahyu adalah keutamaan yang begitu besarnya sehingga siapapun yang menjadi penulis wahyu tidak boleh dikecam perilakunya. Lantas bagaimana dengan hadis berikut

عن أنس بن مالك قال كان منا رجل من بني النجار قد قرأ البقرة وآل عمران وكان يكتب لرسول الله صلى الله عليه و سلم فانطلق هاربا حتى لحق بأهل الكتاب قال فرفعوه قالوا هذا قد كان يكتب لمحمد فأعجبوا به فما لبث أن قصم الله عنقه فيهم فحفروا له فواروه فأصبحت الأرض قد نبذته على وجهها ثم عادوا فحفروا له فواروه فأصبحت الأرض قد نبذته على وجهها ثم عادوا فحفروا له فواروه فأصبحت الأرض قد نبذته على وجهها فتركوه منبوذا

Dari Anas bin Malik yang berkata “Di antara kami ada seorang laki-laki dari Bani Najjar yang telah membaca surah Al Baqarah dan surah Ali Imran dan ia seorang penulis wahyu untuk Rasulullah SAW. Kemudian ia pergi melarikan diri dan bergabung bersama Ahli Kitab yang menyanjungnya. Mereka berkata ”Orang ini pernah menjadi penulis wahyu bagi Muhammad” sehingga mereka pun mengaguminya. Tidak beberapa lama kemudian Allah menimpakan bencana pada orang itu hingga kematiannya. Mereka para ahli kitab menggali kuburan untuknya dan menguburkannya. Keesokan harinya bumi telah memuntahkan jasad orang itu ke permukaan. Mereka ahli kitab itu pun menggali kuburan kembali dan menguburkannya tetapi keesokan harinya bumi kembali memuntahkan jasad orang itu. Lagi-lagi mereka menggali kuburan dan menguburkan jasad orang itu dan begitu pula keesokan harinya bumi memuntahkan kembali jasad tersebut. Akhirnya mereka ahli kitab membiarkan jasad orang itu terbuang.(Shahih Muslim juz 4 hal 2145 hadis no 14 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi)

.

Sepertinya nasib seorang Penulis wahyu dalam hadis ini benar-benar sangat buruk sehingga bumi tidak bersedia menerima jasadnya. Apa yang terjadi, bukankah menjadi seorang penulis wahyu adalah keutamaan yang sangat besar. Ah entahlah, saya tidak terlalu mengerti hadis ini. Ada yang mau memberikan pendapat? Silakan, silakan